Saat melakukan riset keyword, search volume tinggi memang terlihat menjanjikan. Namun, keyword populer sebenarnya belum tentu akan mudah membawa trafik ke website. Di lain sisi, keyword dengan persaingan rendah juga tidak menjamin trafik relevan. Inilah mengapa kita perlu membandingkan keyword difficulty vs search volume secara tepat.
Di sini, kita perlu melihat keduanya lebih dari sekadar angka pada tools. Keputusan juga harus berdasar pada kemampuan bersaing website, search intent, relevansi, dan potensi keyword yang mendukung tujuan bisnis.
Key Takeaways
- Perbedaaan keyword difficulty vs search volume ada pada aspek yang diukur; keyword difficulty (KD) mengukur estimasi tingkat kesulitan ranking organik, dan search volume (SV) mengukur estimasi frekuensi pencarian.
- Dalam proses riset keyword, SV dan KD adalah metrik yang harus saling melengkapi.
- Hindari mengejar keyword yang populer tanpa mempertimbangkan relevansi dan kemampuan website.
Search Volume vs Keyword Difficulty
Search volume (SV) dan keyword difficulty (KD) adalah dua metrik yang sering digunakan dalam proses riset kata kunci. Keduanya sendiri pada dasarnya mengukur dua hal yang berbeda.
Di sini, search volume adalah metrik yang menunjukkan estimasi rata-rata frekuensi pencarian suatu keyword dalam periode tertentu di SERP (biasanya per bulan). Metrik ini membantu kita memperkirakan seberapa populer atau besar minat audiens terhadap topik yang direfleksikan oleh suatu keyword.
Sedangkan, keyword difficulty adalah estimasi tingkat kesulitan suatu keyword untuk dimenangkan di SERP. Dengan kata lain, metrik ini bisa membantu memberikan gambaran seberapa sulit mendapatkan peringkat organik di SERP untuk penelusuran suatu kata kunci.
Meski kedua metrik ini tersedia di banyak tools SEO, setiap tool memiliki metode perhitungan tersendiri. Misalnya, Ahrefs menggunakan profil referring domain dari 10 hasil organik teratas sebagai salah satu dasar perhitungan.
Untuk lebih memahami perbedaan keyword difficulty vs search volume ini, berikut adalah tabel perbandingan sederhana yang bisa Anda pelajari:
| Aspek | Search Volume | Keyword Difficulty |
| Fokus | Estimasi frekuensi pencarian. | Estimasi tingkat kesulitan ranking organik. |
| Kegunaan | Memperkirakan permintaan pencarian/penelusuran. | Menilai tingkat persaingan keyword di SERP. |
| Angka tinggi | Banyak pencarian potensial. | Persaingan cenderung tinggi, sehingga peluang ranking lebih sulit. |
| Angka rendah | Minat pencarian relatif kecil. | Peluang mendapatkan ranking lebih terbuka. |
| Keterbatasan | Tidak menjamin klik atau trafik. | Tidak menjamin tingkat kesulitan sebenarnya untuk setiap website. |
Penting untuk Anda pahami bahwa kedua metrik riset keyword ini bukan ukuran mutlak. Data SV dari tools pihak ketiga pada dasarnya hanya sebatas estimasi, bukan jumlah pencarian pasti.
Hal tersebut juga berlaku untuk data KD. Metrik ini bukan jaminan bahwa laman bisa masuk peringkat atas SERP Google. Dalam hal ini, kualitas konten, relevansi dengan pencarian, otoritas website, dan kondisi SERP juga memainkan variabel yang menentukan.
Risiko Hanya Mengandalkan Search Volume Tinggi

Alt: contoh hasil riset kata kunci dengan volume pencarian tinggi dan umumnya diikuti dengan tingkat tingkat persaingan yang tinggi pula
Saat melakukan riset kata kunci, kita mungkin akan tergoda untuk memprioritaskan keyword dengan search volume terbesar. Logikanya sederhana, makin banyak orang yang mencari, maka semakin besar peluang trafik.
Namun, pendekatan ini sebenarnya berisiko jika tingkat persaingan dan otoritas website belum dipertimbangkan.
Bayangkan, kita sedang menyusun strategi konten untuk website bisnis yang umurnya relatif baru. Dari hasil riset, ditemukan kata kunci dengan volume 20.000 per bulan dan memilihnya sebagai prioritas.
Namun, setelah konten terbit, kita baru menyadari bahwa penelusuran keyword tersebut didominasi oleh laman dari domain raksasa dengan banyak backlink, pembahasan mendalam, dan otoritas kuat. Alhasil, artikel jadi kesulitan mendapatkan visibilitas meskipun sudah mendapatkan optimalisasi dari sisi on-page.
Skenario ini menunjukkan bahwa search volume tinggi tidak otomatis bisa kita terjemahkan sebagai peluang SEO terbaik. Di sini, kita juga perlu menilai apakah website memiliki resource dan keunggulan yang cukup untuk memenangkan persaingan di SERP.
Risiko Mengejar Keyword Low Difficulty

Alt: contoh hasil riset kata kunci dengan tingkat persaingan rendah
Jika keyword dengan KD tinggi berisiko sulit website taklukan, keyword dengan KD rendah tampak seperti jalan pintas. Namun, mengejar skor kesulitan rendah tanpa mempertimbangkan faktor lain juga bisa membuang sumber daya.
- Pertama, keyword tersebut mungkin memiliki search volume yang sangat kecil. Mendapatkan posisi pertama untuk keyword dengan sedikit pencarian belum tentu memberikan dampak signifikan terhadap trafik organik.
- Kedua, keyword bisa tidak relevan dengan target audiens. Misalnya, website penyedia software akuntansi menemukan keyword yang persaingannya mudah, namun topiknya hanya berkaitan dengan bisnis secara umum dan tidak membantu calon pelanggan dalam memahami solusi yang bisnis tawarkan.
- Ketiga, skor KD tidak selalu menggambarkan seluruh tantangan SEO. Metrik yang terutama mempertimbangkan backlink bisa saja tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas konten kompetitor, kesesuaian format halaman, atau kebutuhan pengguna.
Untuk menghindari masalah tersebut, kami biasanya memeriksa SERP secara langsung sebelum memilih keyword persaingan rendah. Kemudian memerhatikan siapa yang mendominasi hasil pencarian, format konten yang Google tampilkan, serta apakah website kita mampu memberikan jawaban yang lebih relevan.
Jadi, KD rendah dijadikan sebagai indikator awal untuk menyaring peluang, bukan semata-mata alasan untuk menerbitkan konten.
Keyword Difficulty vs Search Volume, Mana Paling Penting?
Jika harus membandingkan mana yang lebih penting antara keyword difficulty vs search volume, maka jawabannya bergantung pada kondisi website dan tujuan SEO yang menjadi target. Tidak ada satu metrik yang selalu lebih penting untuk semua proyek SEO.
Jika website masih tergolong baru dan belum memiliki banyak laman yang mendapatkan peringkat, menargetkan keyword dengan KD relatif rendah dan intent adalah titik awal yang ideal untuk pengembangan. Strategi konten ini akan membantu membangun cakupan topik secara bertahap, namun tanpa harus bersaing untuk keyword yang kompetitif.
Sebaliknya, website dengan otoritas dan performa organik kuat bisa memiliki kapasitas untuk menargetkan kata kunci dengan SV lebih besar. Meskipun demikian, perlu tetap memvalidasinya melalui analisis SERP dan relevansi bisnis.
Dalam hal ini, kami biasanya mempertimbangkan 3 kondisi berikut:
- Website baru: prioritaskan keyword relevan dengan persaingan yang masuk akal, meskipun volumenya tidak terlalu besar.
- Website yang sedang berkembang: kombinasikan keyword dengan persaingan rendah hingga menengah dan keyword bervolume lebih besar.
- Website yang sudah mapan: perluas cakupan keyword kompetitif sambil mempertahankan peluang yang lebih spesifik dan relevan.
Menggabungkan Search Volume, Keyword Difficulty, dan Intent
Supaya keputusan pemilihan kata kunci lebih akurat, kita perlu menambahkan search intent sebagai variabel dalam analisisnya.
Search intent sendiri merujuk pada tujuan pengguna saat melakukan penelusuran. Umumnya, search intent ini terbagi menjadi 4 kategori utama, yaitu:
- Informasional: pencarian yang bertujuan memahami suatu topik atau belajar hal baru. Contohnya “apa itu backlink”, “cara melakukan email marketing”, dan lainnya.
- Navigational: pencarian yang bersifat langsung menuju ke laman web atau brand tertentu, seperti “X login”, “YouTube login”, dan lainnya.
- Komersial: pencarian yang bersifat investasi komersial, seperti rekomendasi produk dan perbandingan harga.
- Transactional (transaksi): pencarian di mesin pencari untuk tujuan transaksi, seperti beli laptop 1 jutaan, promo tiket pesawat dari Jakarta, dan lainnya.
Misalnya, seseorang yang mencari “apa itu backlink” kemungkinan membutuhkan penjelasan mengenai backlink. Sementara itu, pengguna yang mencari software backlink terbaik mungkin sedang membandingkan pilihan berlangganan atau mengunduh.

Alt: perbandingan hasil pencarian dari kata kunci dengan intent informational (kiri) dan intent commercial (kanan)
Meski kedua keyword membahas topik yang sama, laman yang pengguna butuhkan bisa berbeda. Memilih keyword hanya karena volumenya tinggi dan KD-nya rendah berisiko menghasilkan konten yang tidak relevan dengan pengguna.
Oleh karena itu, saat menganalisa peluang, kami lebih mempertimbangkan beberapa hal berikut:
- Search volume: apakah ada permintaan pencarian yang cukup untuk mendukung tujuan halaman?
- Keyword difficulty: seberapa kompetitif hasil organik, dan apakah website memiliki peluang bersaing?
- Search intent: jenis laman dan informasi apa yang benar-benar pengguna cari?
- Relevansi bisnis: apakah keyword mendukung topik utama website dan perjalanan calon pelanggan?
- Traffic potential: apakah laman berpotensi memperoleh trafik dari beberapa keyword terkait, bukan hanya keyword utama?
Cara Menentukan Kata Kunci yang Tepat
Setelah memahami ketiga faktor utama dalam proses riset keyword; KD, SV, dan search intent, kami berkesimpulan untuk menentukan kata kunci melalui alur kerja yang terstruktur berikut ini.
- Mulai dari kebutuhan audiens dan tujuan bisnis: Menentukan topik yang relevan dengan produk, layanan, atau informasi yang ingin disediakan. Kami tidak memulai dari volume pencarian saja, karena keyword populer belum tentu mendatangkan trafik relevan.
- Mengumpulkan dan mengelompokkan keyword: Memanfaatkan tools riset kata kunci, seperti Ahrefs atau Semrush untuk mengumpulkan ide keyword, volume pencarian, dan data persaingan yang tersedia. Lalu, melakukan pemetaan kata kunci dengan variasi keyword berdasarkan intent agar tidak membuat beberapa laman yang menargetkan kebutuhan serupa.
- Menganalisis SERP: Memeriksa laman yang mendapatkan peringkat teratas untuk setiap keyword prioritas. Lalu, mengamati jenis konten, kedalaman pembahasan, kekuatan kompetitor, dan format hasil pencarian. Langkah ini membantu memvalidasi apakah skor KD sesuai dengan kondisi yang terlihat.
- Menentukan prioritas: Membuat matriks sederhana untuk mempermudah perbandingan. Misalnya, SV tinggi + KD rendah = prioritas tinggi jika relevansi jelas, SV rendah + KD rendah = bisa jadi prioritas dan menghasilkan konversi jika relevan, dan lainnya.
- Mencatat keputusan: Menginput keyword utama, variasi keyword, volume, KD, intent, URL target, serta prioritas ke dalam spreadsheet. Setelah konten terbit, memantau performa aktualnya melalui Google Search Console (GSC) atau tool SEO lainnya.
- Evaluasi: Jika laman yang terbit tidak menunjukkan peningkatan performa di SERP, dilakukan evaluasi kembali terkait relevansi konten, kecocokan intent, dan kondisi kompetisi.
Tidak Ada Metrik yang Lebih Unggul!
Ringkasnya, dalam perbandingan antara keyword difficulty vs search volume, sebenarnya tidak ada metrik yang selalu lebih unggul. SV bisa membantu memperkirakan estimasi permintaan, sedangkan KD memberikan gambaran tingkat persaingan di SERP.
Dalam hal ini, strategi konten yang lebih matang dan efektif adalah menggabungkan kedua metrik tersebut dengan variabel lain: search intent, relevansi bisnis, trafik potensial, dan kemampuan website.
Dengan pendekatan ini, Anda tidak hanya bisa memilih keyword yang tidak hanya menarik dari sisi angka di tools SEO, namun benar-benar bisa mendatangkan trafik yang relevan.

Alexandromeo Lawrence is the CEO of Makinrajin and focuses on digital growth strategy, SEO, organic growth, and content strategy. He has worked on digital marketing projects across various industries and regularly shares insights on SEO, content, and digital growth.
