Alexandromeo Lawrence

Alexandromeo Lawrence is the CEO of Makinrajin and focuses on digital growth strategy, SEO, organic growth, and content strategy. He has worked on digital marketing projects across various industries and regularly shares insights on SEO, content, and digital growth.

Apa Itu Redirect Chain: Dampak, Cara Identifikasi, dan Solusinya

3 min read

Apa Itu Redirect Chain? Ini Penjelasannya

Redirect chain adalah salah satu permasalahan SEO yang bisa terjadi karena praktik pengalihan (redirect) yang tidak tepat. Masalah ini tidak hanya berdampak negatif pada performa SEO, tetapi juga dapat menurunkan kualitas pengalaman pengguna. Untuk memahami lebih jauh apa itu redirect chain, simak penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Apa Itu Redirect Chain?

Redirect chain adalah kondisi ketika sebuah URL tidak langsung mengarah ke alamat tujuan, melainkan harus melewati beberapa URL perantara terlebih dahulu. Kondisi yang juga terkenal sebagai rantai pengalihan ini membuat pengguna harus melewati beberapa URL berlapis sebelum akhirnya sampai ke halaman akhir.

Sebagai contoh:

  • URL A → dialihkan ke URL B.
  • URL B → dialihkan ke URL C.
  • URL C → dialihkan ke URL D (URL tujuan).

Dari contoh di atas, Anda bisa melihat bahwa URL A mengalami lebih dari satu pengalihan (redirect) sebelum mencapai halaman tujuan. Meskipun tampak sepele, namun keberadaan redirect chain bisa menurunkan kualitas pengalaman pengguna (user experience) dan berdampak negatif pada performa SEO website.

Baca Juga: Apa itu URL? Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

Bagaimana Terjadinya Redirect Chain?

Redirect chain umumnya terjadi pada website berusia lama atau yang sudah mengalami perubahan struktur. Ada beberapa alasan terjadinya redirect chain, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Migrasi Website tanpa Audit Redirect

Ada banyak kasus di mana pengelola website melakukan migrasi domain, penerapan HTTPS, atau perubahan struktur URL dengan cara menambahkan redirect secara bertahap, tanpa merapikan redirect lama. Akibatnya, redirect baru menumpuk di atas redirect sebelumnya dan membentuk alur pengalihan berantai.

2. Perubahan Struktur URL yang Berulang

Setiap kali URL diubah tanpa memperbarui atau membersihkan redirect lama, risiko terjadinya redirect chain akan semakin besar. Situasi ini sering terjadi pada website berskala besar, termasuk website e-commerce.

3. Penggunaan Lebih dari Satu Plugin Redirect

Penggunaan beberapa plugin redirect sekaligus juga kerap menjadi alasan terjadinya redirect chain. Hal ini umumnya terjadi karena adanya perbedaan aturan dan konfigurasi pengalihan yang diterapkan oleh masing-masing plugin.

Pengaruh Redirect Chain dalam SEO

Redirect chain pada dasarnya merupakan masalah SEO yang cukup serius. Jika dibiarkan dalam jumlah banyak dan berlangsung lama, maka kondisi ini dapat berdampak buruk pada performa SEO sebuah website. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Menurunkan Kecepatan Loading

Redirect chain termasuk isu SEO yang bisa memperlambat waktu muat halaman (load page). Pasalnya, semakin panjang rantai pengalihan, semakin lama pula halaman dimuat, terutama saat diakses melalui perangkat mobile.

Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya dapat memicu masalah lain seperti meningkatnya bounce rate. Melansir laman Browserstack, penurunan kecepatan muat halaman, meskipun hanya dalam hitungan detik, terbukti dapat menurunkan tingkat kepuasaan pengguna hingga 16%.

Selain itu, laman SEO lain juga menyebutkan bahwa kemungkinan pengunjung mobile meninggalkan website bisa meningkat hingga 123% jika ada peningkatan waktu muat lama selama 1-10 detik.

2. Mengurangi Link Equity

Pengaruh redirect chain dalam SEO berikutnya adalah berkurangnya nilai link equity. Meskipun Google tetap meneruskan link juice melalui Redirect 301, penggunaan redirect secara berlapis tetap berpotensi menurunkan kekuatan backlink yang mengarah ke suatu halaman.

3. Mengurangi Efisiensi Proses Crawling Google

Googlebot, yang berfungsi sebagai perayap mesin pencari (crawler), memiliki budget terbatas. Redirect chain dapat memperpanjang jalur perayapan, sehingga anggaran perayapan (crawl budget) menjadi lebih cepat terpakai. Akibatnya, halaman penting lainnya di dalam website berisiko tidak terindeks secara optimal.

4. Menyebabkan Pengalaman Pengguna yang Buruk

Selain meningkatkan bounce rate, redirect berlapis juga berpotensi menciptakan pengalaman pengguna yang buruk (bad user experience). Hal ini karena adanya peningkatan risiko terjadinya kesalahan (error) atau kegagalan saat memuat halaman.

Baca Juga: Apa Pentingnya User Experience dalam Faktor Peringkat SEO?

5. Berpotensi Menjadi Redirect Loop

Jika tidak Anda tangani dengan benar, redirect chain bisa berkembang menjadi isu SEO yang lebih serius, yaitu redirect loop. Singkatnya, redirect loop adalah kondisi di mana satu URL terus-menerus saling mengarahkan satu sama lain, sehingga mesin pencari tidak dapat mengindeks halaman tersebut sama sekali.

Cara Identifikasi Redirect Chain

Setelah memahami apa itu redirect chain secara umum dan dampaknya, penting bagi Anda untuk mengetahui cara mengidentifikasi isu SEO ini. Ada beberapa metode yang bisa Anda gunakan untuk mendeteksi rantai pengalihan, berikut ini penjelasannya.

1. Menggunakan Google Search Console (GSC)

Google Search Console (GSC) adalah layanan gratis dari Google yang memungkinkan pemilik situs untuk memantau performa website-nya di hasil pencarian (SERP). Selain untuk memantau performa, GSC juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi berbagai masalah teknis pada website, termasuk redirect chain.

Untuk menggunakan GSC dalam proses identifikasi rantai pengalihan, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini.

  1. Masuk ke akun Google Search Console yang terhubung dengan website Anda.
  2. Selanjutnya, akses menu Indexing dan buka tab Pages (Halaman). 
  3. Pada tab tersebut, Anda akan menemukan laporan terkait masalah perayapan (crawling) dan pengindeksan (indexing), termasuk isu yang berkaitan dengan pengalihan.
  4. Perhatikan bagian isu “Page with Redirect” dan “Redirect Error”.
  5. Klik masing-masing isu untuk melihat detail halaman yang mengalami masalah.

Baca Juga: 7 Cara Mudah Verifikasi Google Search Console untuk Pemula

2. Menggunakan Ahrefs

Selain GSC, Anda juga bisa mengidentifikasi isu rantai pengalihan melalui tool SEO berbayar seperti Ahrefs. Begini cara melakukannya: 

  1. Jalankan fitur Site Audit.
  2. Kemudian, buka bagian Redirects.
  3. Nantinya, Ahrefs akan menampilkan laporan jika website Anda terdeteksi memiliki isu redirect chain.
  4. Klik laporan tersebut untuk melihat detail halaman yang bermasalah secara rinci.

Cara Memperbaiki Redirect Chain

Setelah mengidentifikasi adanya redirect chain, langkah selanjutnya adalah memperbaiki isu rantai pengalihan. Ada beberapa cara memperbaiki redirect chain secara sistematis dan sering diterapkan oleh praktisi SEO, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Redirect Langsung ke URL Tujuan Akhir

Cara paling efektif untuk mengatasi redirect chain adalah dengan memutus rantai pengalihan itu sendiri. Dengan kata lain, Anda harus memastikan bahwa satu URL langsung diarahkan ke URL tujuan dalam satu kali redirect.

Begini contoh skema perbaikannya:

  • Sebelum: URL A → URL B → URL C → URL.
  • Setelah perbaikan: URL A → URL D.

2. Konsolidasi Redirect

Pendekatan lainnya yang bisa Anda lakukan adalah melakukan konsolidasi redirect. Pertimbangkan untuk menggabungkan aturan redirect, sehingga proses redirect hanya terjadi satu kali. Misalnya:

  • HTTP→ HTTPS.
  • Non-www → www (atau sebaliknya).

3. Audit Plugin Redirect

Jika Anda menggunakan lebih dari satu plugin redirect pada website, sebaiknya pertimbangkan untuk menghapus atau menonaktifkan salah satunya. Langkah ini bertujuan untuk mencegah potensi error redirect, seperti “ERR_TOO_MANY_REDIRECTS”.

4. Pastikan Menggunakan Redirect 301 yang Benar

Dalam melakukan pengalihan permanen, pastikan Anda menggunakan Redirect 301. Jenis redirect ini berfungsi sebagai sinyal bagi Google bahwa halaman lama telah dialihkan secara permanen ke halaman lain yang lebih relevan.

Baca Juga: 301 vs 302 Redirect, Mana yang Paling Baik untuk SEO?

Sudah Paham Apa Itu Redirect Chain?

Redirect chain adalah rangkaian pengalihan URL yang dapat memperlambat waktu muat halaman serta memengaruhi performa SEO jika tidak dikelola dengan baik. Dengan memahami apa itu redirect chain, Anda bisa mengidentifikasi jalur redirect yang tidak perlu dan menjaga struktur website tetap efisien.

Mengoptimalkan redirect bukan hanya soal teknis, tetapi juga investasi jangka panjang untuk pengalaman pengguna yang lebih baik. Dengan meminimalkan redirect chain, website akan lebih cepat, mudah diakses, dan memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di hasil pencarian.

Alexandromeo Lawrence

Alexandromeo Lawrence is the CEO of Makinrajin and focuses on digital growth strategy, SEO, organic growth, and content strategy. He has worked on digital marketing projects across various industries and regularly shares insights on SEO, content, and digital growth.

Hai!

Silakan pilih salah satu dari agent kami

Customer Service Makinrajin Admin
6288215431609
Silakan hubungi kami kapanpun Anda mau
Hai! Ada yang bisa saya bantu?
×
Butuh bantuan?