Alexandromeo Lawrence

Alexandromeo Lawrence is the CEO of Makinrajin and focuses on digital growth strategy, SEO, organic growth, and content strategy. He has worked on digital marketing projects across various industries and regularly shares insights on SEO, content, and digital growth.

Mengapa Keyword dengan Search Volume Tinggi Belum Tentu Bagus?

7 min read

Mengapa Keyword dengan Search Volume Tinggi Belum Tentu Bagus

Dalam riset SEO, keyword atau kata kunci dengan search volume tinggi belum tentu bagus untuk menjadi prioritas konten. Search volume atau volume pencarian sendiri memang merefleksikan besarnya pencarian, namun metrik ini tidak memberitahu secara langsung apakah pencarinya sesuai dengan target bisnis, potensi memenangkan persaingan, atau berapa banyak potensi leads-nya.

Hal inilah yang menjadi dasar mengapa riset SEO tidak hanya berhenti pada berapa banyak volume pencariannya, tapi juga berlanjut pada hal yang lebih spesifik, yaitu apakah keyword tersebut bisa menghasilkan trafik yang relevan. 

Key Takeaways

  • Search volume tinggi bukan jaminan trafik yang relevan, karena tidak semua pencarian menghasilkan klik atau kunjungan ke website.
  • Relevansi lebih penting daripada sekadar volume. Keyword dengan volume lebih kecil justru lebih bisa mendatangkan audiens yang lebih sesuai dengan tujuan bisnis.
  • Pertimbangkan search intent, persaingan SERP, long-tail keyword, data internal bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan konsumen, serta data dari forum publik agar prioritas keyword lebih strategis dan berpotensi menghasilkan nilai bisnis.

Mengapa Search Volume Tinggi Tidak Selalu Jadi Prioritas Utama dalam Riset Kata Kunci?

Search volume pada dasarnya tetap menjadi metrik yang berguna dalam riset SEO. Angka tersebut membantu memahami apakah sebuah topik memiliki permintaan pencarian di mesin pencari. Namun, menjadikannya sebagai dasar tunggal dalam pemilihan kata kunci bisa berujung pada content plan yang tidak efisien.

Berikut adalah beberapa alasan keyword dengan search volume besar belum tentu menawarkan peluang SEO yang baik.

1. Search Volume Menunjukkan Estimasi Pencarian, Bukan Jaminan Trafik

Di kebanyakan tool SEO, search volume biasanya disajikan sebagai estimasi rata-rata pencarian sebuah kata kunci dalam periode tertentu. Misalnya pada Ahrefs, periode untuk metrik volume pencariannya adalah rata-rata 12 bulan.

search volume pada kata kunci yang sama bisa berbeda pada periode tertentu

Karena itu, angka yang Anda lihat di tool SEO tidak selalu menggambarkan kondisi pencarian pada hari atau bulan tertentu. Selain itu, volume pencarian bisa berubah karena musim, tren, perubahan kebutuhan, atau peristiwa tertentu.

Dengan kata lain, keyword dengan volume pencarian tinggi belum tentu bagus atau akan mengalami peningkatan saat Anda akan membuat konten.

Persoalan lain yang lebih penting adalah search volume tidak sama dengan trafik organik.

Perlu Anda ketahui bahwa tidak semua pencarian berakhir dengan kunjungan ke website. Sebagian pengguna bisa mendapatkan informasi langsung dari SERP (Search Engine Result Page), mengklik iklan, menggunakan fitur pencarian tertentu, atau bahkan berhenti setelah menemukan jawaban.

Bahkan salah satu raksasa tool SEO Ahrefs secara eksplisit sudah mengonfirmasi hal ini.

Situasinya bahkan semakin kompleks ketika SERP hari ini sudah didukung fitur seperti AI Overviews, featured snippets, People Also Ask, video, local pack, dan elemen lain yang memberikan informasi langsung ke pengguna.

Khusus untuk keberadaan AI Overviews, fitur ini bisa memungkinkan suatu keyword memiliki klik organik lebih rendah ketimbang volume pencariannya.

Singkatnya, keyword dengan 10.000 search volume tidak menjamin bahwa laman bisa mendapatkan 10.000 kunjungan, bahkan mendapatkan peringkat atas di mesin pencarian.

2. Keyword dengan Volume Tinggi Cenderung Memiliki Audiens Lebih Luas

Alasan lain mengapa keyword dengan search volume tinggi belum tentu bagus adalah karena sering kali kata kunci tersebut sifatnya lebih umum dan cenderung memiliki audiens yang luas. Artinya, kebutuhan pengguna yang mencarinya bisa sangat bervariasi atau berbeda-beda.

Misalnya untuk kata kunci “sepatu lari”. Keyword ini memiliki cakupan kebutuhan pengguna sangat luas. Pengguna bisa saja sedang mencari rekomendasi sepatu lari, jenis sepatu lari, sepatu lari murah, dan lainnya.

Coba bandingkan dengan kata kunci yang lebih spesifik seperti “sepatu lari lokal”

perbandingan volume pencarian pada kata kunci umum “sepatu lari” dengan kata kunci lebih spesifik “sepatu lari lokal”

Volume pencarian pada kata kunci ini mungkin lebih kecil, karena query-nya lebih spesifik. Namun di lain sisi, orang yang menelusuri keyword tersebut sudah memberikan konteks kebutuhan yang lebih jelas.

Jika Anda menjalankan e-commerce sepatu brand lokal, maka audiens dari keyword kedua memiliki potensi tinggi lebih relevan dengan bisnis Anda.

Ini juga yang menjadi alasan mengapa search volume perlu dikombinasikan dengan relevansi audiens dan search intent.

Keyword bervolume besar memang bisa berpotensi menghasilkan banyak pengunjung. Namun, jika sebagian besar kunjungan tidak membutuhkan produk atau layanan yang bisnis Anda tawarkan, maka trafik tersebut tidak memberikan nilai bisnis.

Lebih lengkapnya, Anda bisa mempelajari studi kasus dari platform software marketing Iriscale di mana salah satu keyword dengan trafik 40.000 kunjungan per bulan berhasil membawanya ke rank teratas di hasil penelusuran, tetapi tidak menghasilkan sales maupun lead yang berarti. 

Keyword itu memiliki cakupan yang terlalu luas sehingga menarik pengunjung dengan kebutuhan dan tujuan pencarian yang beragam, termasuk mereka yang tidak membutuhkan produknya, serta tidak sesuai dengan target bisnis.

3. Search Volume Tinggi Tidak Menjamin Peluang Ranking Lebih Tinggi

Semakin tinggi volume pencarian sebuah kata kunci, maka semakin besar tantangan website untuk menenangkan ranking di SERP.

Pasalnya, keyword populer sering menjadi arena kompetisi yang ketat. SERP bisa didominasi oleh website dengan brand kuat, laman lama yang sudah mendapatkan banyak backlink, domain dengan reputasi tinggi, hingga media besar.

Dominasi entitas besar pada hasil pencarian keyword umum

Oleh karena itu, sebelum memasukkan keyword dengan volume pencarian tinggi ke content plan, pastikan juga memeriksa keyword difficulty, intent, dan hasil analisis SERP secara aktual. Anda perlu memerhatikan:

  • otoritas dan relevansi website yang ranking,
  • jenis laman yang muncul,
  • kualitas dan kedalaman konten,
  • backlink yang laman kompetitor miliki,
  • search intent,
  • seberapa besar persaingan website Anda dengan brand yang muncul,
  • apakah website Anda memiliki topical relevance untuk topik tersebut.

Parameter di atas bisa Anda jadikan acuan untuk mengukur apakah website bisa bersaing di SERP untuk suatu kata kunci.

Intinya, keyword dengan volume pencarian tinggi belum tentu bagus atau lebih baik dari yang bervolume lebih rendah tapi persaingan SERP-nya masih memungkinkan untuk website Anda.

4. Trafik dari Keyword Volume Tinggi Belum Tentu Menghasilkan Leads atau Sales

Trafik bukan tujuan akhir bagi sebagian besar website bisnis. Jika tujuan SEO adalah mendatangkan leads, transaksi, pendaftaran atau revenue, maka kualitas dan relevansi trafik menjadi hal yang lebih penting ketimbang jumlah kunjungan.

Hal ini juga kami temukan saat menangani projek jasa SEO untuk klien. Kami pernah menargetkan keyword dengan volume pencarian tinggi karena terlihat menjanjikan dari sisi potensi traffic. Namun, setelah konten mendapatkan kunjungan, keyword tersebut ternyata tidak memberikan kontribusi berarti terhadap performa penjualan.

Masalahnya terletak pada ketidaksesuaian antara intent pencarian dan tujuan bisnis klien. Kata kunci tersebut terlalu umum dan hanya menarik audiens yang masih berada pada tahap awal perjalanan pembelian. 

Sebagian besar pengunjung memang sedang mencari informasi, tetapi belum memiliki kebutuhan yang cukup spesifik atau belum siap mempertimbangkan produk yang ditawarkan klien. Dengan kata lain, audiens yang datang masih jauh dari tahap konversi dan belum memiliki dorongan untuk sekadar menghubungi tim penjualan.

Anda bisa membayangkan dua contoh kasus keyword:

  • “software akuntansi” (volume tinggi)
  • “software akuntansi untuk perusahaan manufaktur” (volume lebih rendah)

Keyword utama di sini bisa menarik audiens yang sangat luas, mulai dari mahasiswa, pemilik bisnis, pekerja, hingga pencari informasi yang baru mengetahui topik tersebut.

Sedangkan keyword kedua memiliki audiens yang lebih spesifik. Mereka adalah orang yang sudah menyebutkan konteks penggunaan dalam penelusuran.

Jika membandingkan keduanya, keyword dengan volume lebih kecil di sini memiliki business value yang lebih tinggi dan audiensnya lebih dekat dengan target pelanggan dari bisnis.

Singkatnya, jangan hanya sekadar mengukur berapa banyak potensi jumlah pengunjung yang datang, namun tambahkan juga parameter lain seperti siapa yang datang, apa yang mereka cari, dan kemungkinan aksi mereka setelah membaca laman.

Faktor Penting Selain Search Volume dalam Riset Kata Kunci

Dalam proses riset keyword, volume pencarian pada dasarnya bukan satu-satunya tolak ukur yang digunakan. Ada beberapa metrik dan sumber data yang bisa membantu Anda menemukan prioritas kata kunci yang lebih relevan dan realistis. Beberapa metrik tersebut, antara lain:

1. Search Intent yang Sesuai Tujuan Bisnis

Search intent menunjukkan kebutuhan di balik pencarian. Secara umum, kata kunci bisa menunjukkan jenis kebutuhan tertentu, seperti informational, navigational, commercial, dan transactional.

Namun, label intent saja tidaklah cukup. Anda juga perlu memeriksa SERP untuk melihat bagaimana Google atau mesin pencari lainnya menampilkan keyword tersebut.

Misalnya, website Anda menjual software manajemen pengeluaran. Keyword “apa itu expense management” mungkin memiliki volume cukup besar dan relevan secara topik, namun intent-nya cenderung informasional.

Sedangkan, keyword “software expense management untuk perusahaan” memiliki kebutuhan yang lebih dekat dengan evaluasi solusi.

Keduanya pada dasarnya bisa berguna, namun perannya berbeda dalam strategi konten. Konten informational bisa membangun awareness dan topical coverage, sedangkan laman dengan commercial atau transactional intent bisa lebih potensial mendatangkan konversi.

2. Peluang Ranking di SERP

Sudah banyak tool SEO yang bisa menyajikan informasi keyword difficulty. Meski demikian, jangan menentukan prioritas keyword hanya dari informasi tersebut. Lakukan analisis SERP secara manual untuk memastikan potensi website mendapatkan ranking tinggi di SERP.

Anda bisa mulai dengan memastikan hal berikut:

  • Apakah kompetitor sekelas website Anda sudah ranking?
  • Apakah intent-nya bisa Anda penuhi dengan lebih baik?
  • Apakah hasil teratas didominasi marketplace atau brand besar?
  • Apakah terdapat konten yang sudah usang?
  • Apakah terdapat celah informasi?
  • Apakah format hasil pencarian sesuai dengan kemampuan website Anda?

Melalui pertanyaan di atas, Anda akan bisa mendapatkan bayangan apakah keyword terkait layak untuk dipertimbangkan sebagai konten dan memiliki potensi ranking.

3. Long-Tail Keywords yang Lebih Spesifik

Long-tail keyword biasanya lebih panjang dan spesifik. Karena sifatnya lebih spesifik, volumenya seringkali lebih kecil daripada short-tail keyword maupun head term atau kata kunci pendek dan umum. Meski demikian, jenis keyword ini bisa membantu Anda menjangkau kebutuhan yang lebih jelas.

Misalnya, bandingkan dua keyword berikut:

  • Head term: “invoice”
  • Long-tail: “cara membuat invoice untuk bisnis kecil”

Di sini, Anda bisa melihat bahwa keyword pertama memiliki banyak kemungkinan intent, sedangkan kata kunci kedua memberikan konteks yang jauh lebih jelas.

Selain itu, kata kunci long-tail juga bisa menjadi bagian dari strategi website dalam memperluas pembahasan hingga ke subtopik yang lebih spesifik. Praktiknya sederhana, Anda bisa membangun beberapa konten spesifik yang kemudian terhubung ke laman utama dengan intent lebih luas melalui internal linking.

Namun, jangan menganggap semua long-tail otomatis lebih baik. Relevansi, intent, SERP, dan nilai bisnis tetap perlu Anda periksa.

4. Keyword Asli dari Data Pihak Pertama

Salah satu cara untuk menghindari ketergantungan pada angka dari tools SEO adalah menggunakan data pihak pertama. Data ini berasal dari interaksi nyata antara audiens dengan website atau bisnis.

Salah satunya bisa didapatkan dari Google Search Console (GSC). Tool analisis gratis dari Google ini bisa menyajikan informasi query website Anda, beserta beberapa metrik lain seperti impression, clicks, CTR, dan average position.

Data performa suatu website dari Google Search Console

Data dari Google Search Console dapat membantu menemukan kueri yang benar-benar digunakan audiens untuk menemukan website, termasuk kata kunci yang sebelumnya belum tercantum dalam riset keyword awal.

Selain GSC sendiri, Anda juga bisa menambang keyword dari beberapa sumber berikut:

  • Pertanyaan pelanggan kepada tim sales.
  • Rekaman atau catatan sales call.
  • Tiket customer support.
  • Pertanyaan dalam live chat.
  • Pencarian internal website.
  • Komentar pelanggan.
  • Forum komunitas seperti Reddit dan Quora.
  • Review produk.
  • Survei pelanggan.
  • Email yang masuk.

Sumber di atas dapat memberikan informasi topik yang tidak selalu bisa tools riset keyword berikan.

Misalnya, tim sales berulang kali mendengar calon pelanggan bertanya, “Bagaimana cara mengontrol pengeluaran kartu perusahaan per divisi?”. Pertanyaan tersebut bisa menjadi ide keyword atau topik untuk Anda garap sebagai konten, meskipun volume pencariannya terbilang masih kecil atau bahkan nol.

5. Topical Authority

Praktik membuat artikel untuk setiap kata kunci secara terpisah, tanpa menghubungkannya dengan subtopik yang masih relevan, dapat membuat strategi SEO website menjadi tidak fokus. Daripada mengejar keyword dengan search volume tinggi satu per satu, sebaiknya Anda membangun cakupan topik yang relevan dengan niche website Anda.

Misalnya, website Anda spesifik membahas expense management, Anda bisa membangun kelompok konten yang relevan dengan niche tersebut, seperti:

  • Pengertian expense management.
  • Cara mengelola pengeluaran perusahaan.
  • Kebijakan reimbursement.
  • Laporan pengeluaran.
  • Approval pengeluaran.
  • Rekonsiliasi transaksi
  • Kontrol pengeluaran bisnis.

Selanjutnya, Anda bisa menghubungkan semua konten tersebut melalui internal linking secara natural. Struktur website yang jelas dan internal linking relevan antar konten akan membantu mesin pencari untuk memahami konteks website Anda, sehingga berpotensi mendapatkan topical authority.

Keyword yang Strategis Tidak Selalu Memiliki Search Volume Tinggi!

Keyword dengan volume pencarian tinggi belum tentu bagus, karena search volume pada dasarnya hanya menunjukkan estimasi permintaan pencarian, bukan jaminan trafik, ranking, maupun leads atau sales.

Meskipun demikian, kata kunci bervolume besar bisa tetap menjadi pilihan jika relevan dengan audiens, intent, kompetisi SERP-nya tidak terlalu ketat, dan trafiknya berpotensi mendukung tujuan bisnis. 

Kata kunci dengan volume pencarian rendah juga tidak seharusnya langsung diabaikan. Selama keyword tersebut digunakan oleh audiens yang memiliki kebutuhan jelas dan peluang konversinya tinggi, maka tetap layak untuk ditargetkan.

Ringkasnya, keyword terbaik bukan selalu yang paling banyak dicari tapi yang bisa mempertemukan permintaan pencarian, kemampuan website untuk bersaing, kebutuhan audiens, dan tujuan bisnis.

Alexandromeo Lawrence

Alexandromeo Lawrence is the CEO of Makinrajin and focuses on digital growth strategy, SEO, organic growth, and content strategy. He has worked on digital marketing projects across various industries and regularly shares insights on SEO, content, and digital growth.

Hai!

Silakan pilih salah satu dari agent kami

Customer Service Makinrajin Admin
6288215431609
Silakan hubungi kami kapanpun Anda mau
Hai! Ada yang bisa saya bantu?
×
Butuh bantuan?